SMA N 1 Karangmojo Juara I Lomba Cerdas Cermat Ekonomi Tingkat Propinsi Tahun 2012

Hari ini Senin 26 Nopember 2012 , bertempat di Stasiun TVRI diadakan lomba cerdas cermat ekonomi tingkat propinsi DIY. Pada Lomba Cerdas Cermat ini , Team SMA N 1 Karangmojo Gunungkidul diwakili oleh Risnanda, Devi Ainin Mukti, dan Ula Rohmah serta beberapa suporter yang ikut mendukung team ini.

Dengan latihan intensif, team ini memberanikan diri untuk tetap ikut serta dalam kegiatan ini. Terbukti pada saat lomba tadi mereka membuktikan bahwa mereka adalah team terbaik dengan memperoleh nilai tertinggi 900. Dan akhirnya menjadi Juara I, dan perjuangan mereka patut diajungkan jempol, sekaligus sebagai hadiah khususnya bagi pembimbing Ibu Dra. Emi Gunarti Saptarini, Ibu Fadmiyati, M.Pd, Ibu Devi Nurani Damaryati, S.Pd., dan Bapak Albertus Dedy Kurniawan, S.Pd. dan juga Sekolah selaku almamaternya. Juga hadiah pada ulang tahun Guru yang ke 67. Selamat berjuang para jagoan dan srikandi SMA N 1 Karangmojo, kaliyan pantas menjadi yang terbaik.

Nantikan penayangan acara cerdas cermat ini pada tanggal 17 Desember 2012 di stasiun TVRI Jogja .

Isi Liburan dengan Kegiatan Kreatif

JANGAN biarkan buah hati Anda hanya mengisi liburannya dengan bermain saja. Orangtua sebaiknya memutar otak untuk mengisi sisa liburan anak dengan kegiatan kreatif dalam suasana yang menyenangkan.

Liburan merupakan masa yang dinantikan anak-anak. Selain bermain, banyak yang bisa dilakukan mereka. Dalam mengisi waktu liburan anak-anak, tidak ada salahnya jika orangtua mengisinya dengan kegiatan kreatif.

Mengasah kreativitas anak tidak harus dilakukan saat anak di sekolah, tetapi bisa di mana saja dan kapan saja. Karena saat liburan pun, anak-anak bisa mengisinya dengan melakukan kegiatan yang membuatnya kreatif.

”Saat liburan, ketika anak-anak diajak langsung ke tempat-tempat yang mendidik dan mengasah kreativitasnya, maka hal itu bisa dijadikan untuk memperkaya proses pembelajarannya di dalam kelas,” kata pakar emotional intelligence dari Radani Edutainment, Hanny Muchtar Darta, Certified EI PSYCH-K SET.

Menurutnya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan dan jelajahi selama liburan ini dan semuanya seru, menyenangkan, dan mendidik. Dalam bukunya yang berjudul Pelesir Seri Pengembangan Bakat Panduan Libur Penuh Edukasi, Hanny menjelaskan bahwa merencanakan kegiatan yang menyenangkan dan mendidik untuk mengisi waktu luang anak saat liburan panjang merupakan hal yang mengasyikkan sekaligus menantang.

”Orangtua dituntut untuk bertindak kreatif agar anak tidak bosan melakukan kegiatan yang bisa merangsang kreatifnya saat liburan,” ujarnya.

Misalnya saja dengan melakukan kegiatan melukis. Melukis, bukan saja bisa dilakukan di atas kertas. Sepatu misalnya. Orangtua bisa menyiapkan sepatu putih polos dan cat yang bisa digunakan untuk kain di atas sepatu. Selain mendapatkan kegiatan yang baru, anak-anak juga bisa mendapatkan kegiatan yang menyenangkan yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan.

Liburan yang baik untuk anak tentunya yang menggunakan liburan sebagai salah satu pendekatan dalam menstimulasi perkembangan anak dalam melakukan hal baru. Dengan begitu, anak akan merasa gembira, nyaman, bertambah pengalaman yang mencerdaskan emosi maupun intelektual, sehat fisik maupun mental.

”Liburan bisa dijadikan sebagai salah satu pendekatan untuk menstimulasi anak,” sebut Hanny yang mengambil pendidikan di Emotional Intelligence Six Seconds USA tahun 2004 dan 2005.

Lebih lanjut Hanny menjelaskan, faktor untuk membuat anak gembira adalah sangat penting. Banyak tempat liburan yang mendidik dan sekaligus menyenangkan.

”Jika anak sudah bosan, tanyakan apa yang diinginkan dan bernegosiasi dengan anak,” ujar wanita yang juga menyelesaikan pendidikan Braingym di Singapura tahun 2008.

Misalnya saja saat anak lebih memilih mal ketimbang melakukan kegiatan-kegiatan kreatifnya, maka carilah mal yang memiliki fasilitas menarik untuk anak.

Misalnya saja di Taman Anggrek Condominium Tower, di sana terdapat salah satu gerai bernama Gokomo Kids Chess. Adapun yang menjadi daya tarik utama adalah gerai tersebut memberikan pelajaran mengenai catur.

Sebab, permainan ini dapat memberikan pengalaman baru kepada anak, terutama karena melalui catur, anak dapat meningkatkan daya konsentrasi, daya ingat dan yang pasti kreativitas anak pun meningkat.

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Gisella Tani Pratiwi SPsi menuturkan bahwa dengan mengajak anak mengisi liburan dengan aktivitas seru, berarti orangtua juga memberikan manfaat yang baik untuk mereka. Karena dengan kegiatan liburan yang menyenangkan ini, anak menjadi bahagia, dan bisa me-refresh kejenuhan yang ada saat masa-masa sekolah kemarin.

”Selalu luangkan waktu bersama untuk menemani anak-anak berlibur. Dan jangan berhenti untuk menemukan inovasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bisa membuat anak kreatif selama liburan,” ujar psikolog yang akrab disapa Gissel ini.

Ingat, berlibur bukanlah suatu kegiatan yang hanya bisa diisi dengan bermain saja, tetapi juga sebagai momen untuk anak agar bisa mengembangkan kreativitasnya yang bisa mencerdaskan anak.

TIPS ORANG TUA MENDIDIK ANAK

TIPS ORANG TUA MENDIDIK ANAK
Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda :
1. Kurang Pengawasan
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.
2. Gagal Mendengarkan
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.
3. Jarang Bertemu Muka
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.
4. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.
5. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
7. Mengabaikan Kata Hati
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.
8. Terlalu Banyak Nonton TV
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.
9. Segalanya Diukur Dengan Materi
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.
10. Bersikap Berat Sebelah
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

Kekosongan Nilai Islam dan Kerancuan Tauhid

Asumsi ini kemudian ditarik lebih dalam lagi di tiap teori tentang anak, baik psikomotorik anak, psikososial anak, hingga kognitif anak. Agama memiliki peran asing dan cenderung menjadi benalu. Agama dalam termin Barat adalah satu kasus cacat tersendiri dalam kehidupan awal anak-anak. Karena bagi Barat, anak belum megenal Tuhan dan memang tidak perlu Tuhan.

Sebab agama cenderung menekan insting-insting manusia yang semestinya harus disalurkan seperti pergaulan bebas, hedonisme, hingga keharusan mereka untuk tidak patuh pada norma. Ini kemudian secara tidak sadar diterjemahkan pada beberapa lembaga pendidikan kita yang berkesimpulan bahwa agama adalah wilayah privat. Ia adalah konten pribadi yang cukup diajarkan seminggu sekali.

Sebelum itu, Barat juga telah meredusir mengenai makna agama pada dua hal. Pertama, pengaburan makna agama menjadi sekedar moral belaka. Agama bisa jadi substitut dari moral. Dan moral lebih save untuk diajarkan kepada anak untuk menentukan kebenaran daripada agama. Pertanyaannya adalah sederhana, sekarang apakah sebenarnya perbedaan agama dan moral? Jawabannya juga sederhana.

Bahwa definisi moral hanya berlaku pada suatu lingkup budaya tertentu. Moral dalam definisi masyarakat Indonesia berbeda dengan atural moral di Amerika. Disana anak memanggil dengan sapaan kamu terhadap orang tua sudah bisa, sedang di Indonesia menjadi ganjil untuk mengemuka.

Nah, berbeda dengan moral, agama berlaku dimana saja. Agama bukanlah produk budaya dan tak boleh tunduk pada budaya. Justru agama lah yang membuat budaya harus dekat dengan aturannya. Nah Barat tidak sependapat dengan ini. Bagi mereka, anak sudah cukup menjadi orang baik tanpa harus beragama. Batasan agama tdak boleh berlawanan dengan nilai tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu orang yang namanya Kohlberg saat ia membuat Teori Moralnya tidak mendefinisikan secara jelas tentang makna penting agama bagi anak. Ia hanya membuat teori bahwa pada umur sekian dan sekian anak sudah bisa diajarkan tentang moral. Sekali lagi, moral bukan agama.

Kedua, penafikan pemaknaan benar salah pada proses pendidikan anak. Inilah yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Banyak lembaga pendidikan hatta lembaga pendidikan Islam sekalipun, sudah terjebak pada lema Barat, bahwa anak adalah makhluk lugu yang harus dijauhkan pada konten benar dan salah waktu ia kecil.

“Jadi bapak-bapak ibu-ibu, anak jangan diajari yang macem-macem dulu. Jangan diajari benar atau salah dulu. Maklum anak kita kan masih kecil. Duh kasihan dari kecil sudah diajari thoghut dan kafir.” Begitu kria-kira ucapan salah seorang psikolog anak berjilbab.

Terlihat memang pendapat ini menarik. Asumsi ini coba memberi ruang pada ekspresi anak untuk menampilkan tindakan apa adanya tanpa harus dibelenggu aturan. Tapi thesa ini secara tidak sadar sudah membunuh fitrah anak bahwa sejak di alam ruh pun, anak sudah terikat janji kepada Allah untuk selalu online di jalan kebenaran.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’raf 172)

Inilah konsekuensi tauhid, yang tidak hanya melihat anak pada asupan ketubuhan, yang tidak hanya melihat anak kecil sebagai makhluk lugu yang belum memiliki jiwa. Oleh karena itu, alih-alih kita menjauhi anak untuk mendefinisiakan mana yang thoghut, mana yang kafir, mana yang benar, Rasulullah SAW malah mengatakan justru orangtualah yang sebenarnya menjadikan anaknya thoghut dan kafir.

“Tidak seorang bayi pun kecuali dia terlahir berdasarkan fitrah. Lantas kedua orangtuanya-lah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani, maupun Majusi. Sebagaimana binatang yang melahirkan anak dengan sempurna, apakah kalian rasa ada cacat pada anak binatang tersebut?” Astaghfirullah.

Anak Dijauhkan Dari Ilmu
Tidak hanya berhenti di konten tauhid, dengan tampilan periklanan di media yang menjelaskan tentang kebutuhan biologis anak-anak, kita sudah digiring untuk hanya membentuk anak dalam sebuah prosa yang mutlak biologis. Orangtua hampir habis mengeluarkan uangnya untuk membelikan hal-hal yang bersifat biologis ketimbang memberinya materi khusus tentang makna sebuah ilmu dan agama.

Ini bukan berarti kita dilarang untuk membelikan segala produk ketubuhan bagi bayi sama sekali, namun yang menjadi problem kita adalah jangan-jangan ini memang sudah grand design dari Barat untuk menjauhkan anak dari Ilmu-ilmu Keislaman yang memang Barat khawatir sekali untuk itu.

Akhirnya kita juga khawatir bahwa kita telah terjebak pada manifestasi materialisasi yang cenderung membawa anak pada pemahaman bahwa dunia adalah segala. Bahwa Islam adalah kalimat kedua. Sedang Al Qur’an adalah lembar tulis yang “lebih murah” ketimbang HP berlayar kaca. Konsekuensi logis inilah yang sebenarnya terjadi pada banyak anak muslim, yang meski berkerudung tapi masih melihat Islam dari kacamata lugu. Mereka terbentur pada visi panjang bagaimana menjadi seorang pengilmu sebab telah kadung gagal memaknai agama hanya pada konten ritualitas belaka.

Kalau kita mau jujur, berapa banyak sebenarnya uang kita habis untuk membeli produk-produk ketubuhan ketimbang habis untuk membelikan anak kita sebuah buku. Padahal sebenarnya adalah kesia-siaan jika kita memenuhi asupan gizi kecerdasan anak, jika kita sendiri justru tidak mampu membentuk iklim keluarga dalam menyalurkan potensi kecerdasan anak.

Oleh sebab itu, Ibnu Qayyim Al Jauzi dengan sangat geram mewanti-wanti orangtua yang tidak memenuhi hak ilmu bagi anak dengan sebutan perusak. “Barang siapa yang melalaikan pendidikan anaknya dengan hal-hal yang bermanfaat serta meninggalkannya secara sia-sia, maka berarti telah berbuat buruk kepada anak seburuk-buruknya. Kebanyakan anak menjadi rusak adalah disebabkan orang tuanya, karena tidak adanya perhatian kepada mereka, serta tidak diajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunah-sunnahnya.”

Oleh karenanya, kita juga harus imbang untuk tidak terbentur pada pemaknaan biologis dan kesenangan an sich tapi kemudian melupakan visi jangka panjang tentang asupan ilmu bagi anak. Sedari dini kita juga harus mulai terbiasa untuk memberikan buku daripada mainan. Anak akan belajar betapa lingkungannya memang mendukung bagi tumbuh kembangnya untuk mengenal ideologi Islam. Kecintaan anak pada ilmu dapat dibentuk bagaimana orangtuanya juga memperlakukan ilmu.

Paling tidak kita bisa mensiasati dalam pemenuhan kebutuhan masa anak, namun tidak pula menafikan peran perkembangan keilmuan bagi anak. Sebagai contoh, berilah mainan bagi anak yang juga mengandung unsur edukatif tinimbang kesenangan belaka. Satukan antara makna bermain dengan kedekatan ia kepada Allah lewat jalan pengenalan terhadap ilmu-ilmu Islam. Orang tua bisa menemani anak untuk secara simultan mengkaitkan antara sebuah permainan dengan sains Islam. Dan Alhamdulillah media itu kini sudah cukup banyak.

Maka dari itu, Imam asy-Syahid Hasan al-Banna dalam sebuah risalahnya akhirnya memang menitiktekankan betapa potensi kecerdasan lebih penting untuk kita perhatikan ketimbang sekedar kesenangan belaka. Beliau menyeret nuansa keilmuan dan kepustakaan sebagai elemen terpenting dalam membentuk karakter asasi kanak-kanak, “Adalah sangat penting adanya perpustakaan di dalam rumah, sekalipun sederhana. Koleksi bukunya dipilihkan dari buku-buku sejarah Islam, biografi Salafus Sholih, buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan para ulama ke berbagai negeri, kisah-kisah penaklukan berbagai negeri, dan semisalnya”

Generasi Rabbani seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyyah, Sayyid Quthb, dan Taqiyudin An Nabhani bukanlah sederetan generasi ulama yang ditempuh dalam satu proses lalu usai. Mereka adalah barisan kalimat panjang yang dimulai dari habitasi memperjuangkan kebenaran Islam sejak dini. Dalam naungan jaminan keluarga pecinta ilmu dan penikmat buku yang memiliki peranan penting dalam meretas paradigma pendidikan usia dini yang pasti Islami. Sebab Rasulullah pernah bersaba, Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air. (HR ath-Thabrani dari Abu Darda’ ra.).

Penekanan Tauhid dan Ilmu: Belajar Mendidik Anak Dari Orangtua Imam Syafi’i
AKhirnya kita bisa belajar dari banyak teladan dalam Islam bahwa dunia ini bukan segalanya. Para ulama-ulama terdahulu adalah mereka yang sejak kecilnya justru susah, hidup dalam kemiskinan tapi mampu tampil sebagai pilar memapah Islam dengan kekuatan tauhid dan ilmu yang menyala-nyala.

Salah satu kisah itu dapat kita ambil hikmahnya dalam sekat perjalanan seorang Ulama Besar Islam bernama Imam Syafi’i. Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran seorang orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anak lah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang tentang arti, Tauhid, Ilmu, dan Keharusan membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah. Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun dan kecintaananya terhadap Allah dan ilmu dari kedua ibu dan anak ini meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar sang Imam meski tanpa dominasi finansi.

Imam Syafi‘i pernah bertutur betapa aroma ketauhidan yang kukuh dan nuansa keilmuan yang kuat adalah dua karakter investasi yang membentuk kepribadian hakiki, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.”

Dan dengan segera, guru itu kemudian mengangkat sang pangeran ilmu sebagai penggantinya, mengawasi murid-murid lain jika beliau berhalangan hadir. Bahkan dengan cepat Imam Syafi’i berhasil merampungkan hafalan Qur’an di al-Kuttab, lalu kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu. Imam Syafi’i kemudian berguru fiqih kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji dengan tingkat kecepatan menguasai ilmu dalam jangka waktu relatif cepat.

Az-Zanji kemudian mengakui kemampuan muridnya yang ajaib itu sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun. Bayangkan di usia semuda itu Imam Syafi’i telah menjelma menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah. Inilah buah dari salah satu kerja keras dari seorang ibu yang lebih banyak memberi ilmu ketimbang mainan. Yang lebih banyak berusah payah memberi asupan buku ketimbang jalan-jalan.

Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.

Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah Ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi’i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua. Demi ketaatan dan kecintaan Syafi’i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu, demi rasa cinta seorang pecinta ilmu kepada seorang bernama ibu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Syafi’i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.

Sebelum melepaskan Syafi’i berangkat, ibunda tersayang Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!”

Setelah usai berdo’a, sang ibu memeluk Syafi’i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan, “Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah

Selepas do’a itu terlantun syahdu, Imam Syafi’i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi’i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo’akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu. Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.

Oleh karena kehidupannya yang sangat miskin, maka Syafi’i berangkat dengan perbekalan yang sama sekali minim, kecuali cintanya yang telah tertumpah ruah kepada sang ibu. Imam Syafi’i mengisahkan perpisahan dengan ibunya dengan mengatakan, “Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih terjegat diluar pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabus pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh berkah, tanpa membawa sedikitpun bekalan uang. Apa yang menjadi bekalan bagi diriku hanyalah keteguhan iman dan hati penuh tawakkal kepada Allahuta’ala. Serta do’a restu ibuku.”

Bayangkan bagaimana peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya, hingga mengantar Syafi’i menjadi Imam Besar Umat Islam hingga kini. Itulah esensi pendidikan sejati. Pendidikan yang mustahil terbayar dengan gelimangan uang dan kompleksitas intsrumentasi.

Eksistensi yang mustahil ditemui dalam program-program pendidikan anak usia dini yang menjadikan tauhid dan kecintaan terhadap ilmu sebagai esensi kedua, ketiga, dan keempat setelah status kaya.

Semoga kita dapat memetik pelajaran berharga dari hal ini. Bahwa anak adalah investasi amal kita dalam rangka pengabdian kita kepada Allah. Semoga kita juga terjebak pada pemenuhan kebutuhan anak yang semu dan offline dari aturan Allah Subhana Wa Ta’ala. Karena Kita, anak kita, dan kecintaan kita kepada Allah adalah tiga kata yang harus kita ingat betul jika ingin sukses di akhirat maupun dunia.

“Apabila manusia telah mati, maka terputuslah amal pahalanya kecuali tiga perkara: Amal Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang mendoakannya” (HR. Muslim)
Wallahua’lam.

Secuil motivasi

Dalam dunia kita ada perbedaan mencolok terhadap pandangan kita terhadap orang.
Jika kita berpikir pragmatis, kita kelompokkan hal itu dalam dua macam; orang gagal, dan orang sukses.
Orang gagal merupakan seseorang yang secara mental merupakan orang yang miskin mental.
Tanpa kita sadari kebanyakan dari diri kita merupakan seseorang yang miskin mental.
Apa itu miskin mental?
Gejala-gejala miskin mental itu antara lain Malas, negative thinking, mudah tersinggung, lambat dalam beradaptasi,
takut tantangan, peragu , tidak berdedikasi, apatis, dan lain sebagainya.
Gejala ini banyak menimpa orang pada umumnya.
Sedangkan orang sukses merupakan seseorang yang mempunyai mental yang kaya.
Apa itu kaya mental?
Yaitu Positive thinking, berdedikasi, bertanggungjawab, menghargai waktu, punya kemauan yang kuat, selalu upgrade diri, dan sebagainya.
Hidup merupakan proses belajar, perjuangan tanpa batas.
Success is a journey not a destination.
Sukses bukan merupakan suatu kebetulanl , sukses terjadi dari sebab-sebab yang telah kita lakukan, sukses bukan keberuntungan.
Success not instant . Apa yang ada di depan kita dan dibelakang kita tidak begitu penting dibandingkan apa yang ada dalam diri kita.
Karena musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Attitude is a little thing that can make big diference.
Sebagai seorang manusia kita mempunyai tanggung jawab, tanggung jawab kepada tuhan, diri sendiri, orang lain, alam/waktu.
Kita jangan bekerja untuk bos kita, tetapi kita bekerja semata-mata untuk diri kita dengan tanggung jawab dan kepercayaaan yang telah diberikan kepada kita
Sebuah sukses bukan lahir bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata ,
sebuah sukses terwujud karena diikhtiarkan melalui target yang jelas, perencanaan yang matang, keyakinan, kerja keras,keuletan, dan niat baik.
Orang2 biasa mengganggap target merupakan suatu beban yang melelahkan .
Sedangkan orang-orang luar biasa menganggap beban sebagai target yang menggairahkan .
Bagi orang sukses selamanya mempunyai kelebihan satu cara, tapi bagi orang gagal selamanya mempunyai kelebihan satu alasan.
Ulet adalah suatu sikap yang didalamnya mengandung antusiasme, kegigihan, ketekunan , proaktif, dan pantang menyerah.
Kalau anda lunak terhadap diri anda, kehidupan akan keras kepada anda,
jika anda keras tarhadap diri anda, kehidupan akan lunak terhadap anda.

Student-centred learning: What does it mean for students and lecturers?


Geraldine O’Neill and Tim McMahon
University College Dublin
E-mail: geraldine.m.oneill@ucd.ie / tim.mcmahon@ucd.ie

Printer friendly version in PDF
Introduction
The term student-centred learning (SCL) is widely used in the teaching and learning literature. Many terms have been linked with student-centred learning, such as flexible learning (Taylor 2000), experiential learning (Burnard 1999), self-directed learning and therefore the slightly overused term ‘student-centred learning’ can mean different things to different people. In addition, in practice it is also described by a range of terms and this has led to confusion surrounding its implementation.
The concept of student-centred learning has been credited as early as 1905 to Hayward and in 1956 to Dewey’s work (O’Sullivan 2003). Carl Rogers, the father of client-centred counseling, is associated with expanding this approach into a general theory of education (Burnard 1999; Rogoff 1999). The term student-centred learning was also associated with the work of Piaget and more recently with Malcolm Knowles (Burnard 1999). Rogers (1983a:25), in his book ‘Freedom to Learn for the 80s’, describes the shift in power from the expert teacher to the student learner, driven by a need for a change in the traditional environment where in this ‘so-called educational atmosphere, students become passive, apathetic and bored’. In the School system, the concept of child-centred education has been derived, in particular, from the work of Froebel and the idea that the teacher should not ‘interfere with this process of maturation, but act as a guide’ (Simon 1999). Simon highlighted that this was linked with the process of development or ‘readiness’, i.e. the child will learn when he/she is ready (1999).
The paradigm shift away from teaching to an emphasis on learning has encouraged power to be moved from the teacher to the student (Barr and Tagg 1995). The teacher-focused/transmission of information formats, such as lecturing, have begun to be increasingly criticised and this has paved the way for a widespread growth of ‘student-centred learning’ as an alternative approach. However, despite widespread use of the term, Lea et al. (2003) maintain that one of the issues with student-centred learning is the fact that ‘many institutions or educators claim to be putting student-centred learning into practice, but in reality they are not’ (2003:322).
This chapter aims to:
• Give an overview of the various ways student-centred learning is defined,
• Suggest some ways that student-centred learning can be used as the organising principle of teaching and assessment practices,
• Explore the effectiveness of student-centred learning and
• Present some critiques to it as an approach.
What is student-centred learning?
Kember (1997) described two broad orientations in teaching: the teacher centred/content oriented conception and the student centred/learning oriented conceptions. In a very useful breakdown of these orientations he supports many other authors views in relation to student-centred view including: that knowledge is constructed by students and that the lecturer is a facilitator of learning rather than a presenter of information. Rogers (1983b:188) identified the important precondition for student-centred learning as the need for: ‘… a leader or person who is perceived as an authority figure in the situation, is sufficiently secure within herself (himself) and in her (his) relationship to others that she (he) experiences an essential trust in the capacity of others to think for themselves, to learn for themselves’.
Choice in the area of the learning is emphasised by Burnard, as he interprets Rogers’ ideas of student-centredness as ‘students might not only choose what to study, but how and why that topic might be an interesting one to study’ (1999:244). He also emphasises Rogers’ belief that students’ perceptions of the world were important, that they were relevant and appropriate. This definition therefore emphasises the concept of students having ‘choice’ in their learning.
Harden and Crosby (2000:335) describe teacher-centred learning strategies as the focus on the teacher transmitting knowledge, from the expert to the novice. In contrast, they describe student-centred learning as focusing on the students’ learning and ‘what students do to achieve this, rather than what the teacher does’. This definition emphasises the concept of the student ‘doing’.
Other authors articulate broader, more comprehensive definitions. Lea et al. (2003:322) summarises some of the literature on student-centred learning to include the followings tenets:
1. ‘the reliance on active rather than passive learning,
2. an emphasis on deep learning and understanding,
3. increased responsibility and accountability on the part of the student,
4. an increased sense of autonomy in the learner
5. an interdependence between teacher and learner,
6. mutual respect within the learner teacher relationship,
7. and a reflexive approach to the teaching and learning process on the part of both teacher and learner.’
Gibbs (1995) draws on similar concepts when he describes student-centred courses as those that emphasise: learner activity rather than passivity; students’ experience on the course outside the institution and prior to the course; process and competence, rather than content; where the key decisions about Baca lebih lanjut

GURU ADALAH CERMIN SISWA

Guru yang bertanggung jawab tidak mempersalahkan anak didiknya bila prestasi belajar anak didiknya rendah, menurun, atau bila perilaku anak didik tidak positif, sebab anak didik mencerminkan siapa gurunya.

FAKTA-FAKTA KITA

1. Siswa yang prestasi belajarnya rendah, pasti karena diajar oleh guru yang memiliki motivasi mengajar rendah.

2. Siswa yang perilakunya bermasalah, hampir pasti guru kelasnya juga orang bermasalah, atau tidak layak dicontoh oleh siswa-siswinya.

3. Siswa yang motivasi belajarnya penuh semangat, pasti guru kelasnya juga demikian.

Tidak hanya itu. Orang tua ternyata juga menjadi cermin perilaku anak-anaknya.

1. Siswa yang kehilangan konsentrasi dan motivasi belajar, hampir dapat dipastikan orang tua atau keluarganya sedang “bermasalah”.

2. Siswa yang sikap dan perilakunya tidak tertib, tidak hormat pada guru, hampir dipastikan demikian pula sikap orang tuanya.

MENGAPA DEMIKIAN?

Penjelasannya sederhana saja. Belajar adalah proses induksi stimulus-respon, hukum aksi-reaksi. Seberapa besar aksi guru, sebesar itu pula respon siswa. Guru baik siswa baik, guru bersemangat siswa bersemangat, guru lemas, siswa lemas pula.

Guru adalah acuan mental dan moral bagi siswa. Apalagi di tingkat sekolah dasar ke bawah, guru dengan mudah menjadi manusia idola bagi anak. Apapun yang dikatakan guru cenderung menjadi fatwa yang dipedomani anak.

Guru berperilaku baik, biasanya juga akan diikuti sikap sikap dan perilaku siswa Bagaimana guru membangun perilaku baik pada anak, bila dia sendiri tidak demikian?

Anak juga cerminan orang tua. Setiap anak pasti memiliki ikatan batin dengan orang tuanya. Apapun yang dialami orang tuanya, pasti dirasakan pula oleh anak. Anak adalah bagian intrinsik dari setiap detak kebahagiaan dan keharmonisan orang tuanya. Anak juga bagian dari setiap kesedihan dan problemanya.

Anak adalah perekam terbaik. Kata-kata bijak, kata-kata positif atau omelan negatif orang tuanya tentang guru dan sekolahnya dengan mudah terekam dan disikapi sama oleh anak.

Yang paling menyedihkan adalah ketika siswa mulai membangkang dan tega mencaci guru, karena merasa orang tuanya sudah membayar mahal. Sungguh ironis, bila siswa menganggap guru sebagai pembantu sebab mereka terlalu polos untuk mengatakan hal semacam itu, dan itu pasti bukan suara anak sendiri, bukan?

YANG HARUS KITA LAKUKAN

Fakta-fakta tersebut dapat kita pilahkan menjadi 2 (dua), yaitu fakta yang dapat diubah, dan yang tidak dapat diubah. Sikap dan perilaku orang tua jelas merupakan fakta yang tidak dapat diubah, sedang yang dapat diubah adalah sikap dan perilaku kita sendiri.

Yang perlu kita lakukan adalah mawas diri dan berusaha menjadi guru sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin anak, guru selalu menebarkan semangat, keramahan, rasa hormat, dan kemauan untuk terus belajar tanpa akhir. Guru adalah contoh dan selalu berusaha untuk menjadi contoh terbaik bagi siswa-siswinya dalam bersikap dan berperilaku.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.